Suranyali kembali kedesa dan bertemu Suci (ibu Wiro) dan
mengungkapkan ingin menikahinya namun dia juga berpamitan karna akan berguru
ilmu kanuragan dahulu selama setahun di Gunung Lawu dan setelah kembali baru
akan menikahinya. Suci tidak bisa
menolak tapi tidak meng-iya-kan juga. Disisi lain ternyata Suci sudah
dijodohkan dengan Ranawelang (ayah
Wiro) tanpa sepengetahuan Suranyali mereka pindah ke lain desa dan menikah dan
lahirlah Wiro dgn nama lahir Wiro Saksono.
Sementara itu Suranyali ke Gunung Lawu untuk belajar ilmu
kanuragan. Dia bertemu dgn Eyang
Tapak Gajah dengan membawa uang sbg syarat menjadi muridnya. Tapi masih
ada satu syarat yang diajukan yaitu Suranyali tidak boleh menggunakan ilmu
silat yg tlah ia pelajari dari perguruan lain, dia harus murni menggunakan ilmu
silat aliran Eyang Tapak Gajah. Dan Suranyali menyanggupi syarat kedua maka
Eyang Tapak Gajah menghadiahinya nama baru yaitu Mahesa Birawa. Ritual pun dimulai Eyang Tapak Gajah dengan
mengisi guci dengan Kelabang2 hijau dan menyuruh
Suranyali untuk memasukkan tangannya kedalam, melihat kedalam guci Suranyali
ragu, namun Eyang Tapak Gajak memaksakan tangan Suranyali masuk guci seketika
kelabang2 itu menggigitkan racunnya ke tangan Suranyali, diapun
mengerang sejadi2nya akibat proses itu. Setelah itu Eyang Tapak
Gajah menggembleng Suranyali hingga dia menguasai ajian
pukulan Kelabang Hijau
Sepulangnya dari Gunung Lawu Mahesa Birawa mencari
keberadaan Suci dan akhirnya menemukanya
di desa Jatiwaringin (kalo gak salah :D ). Dia bertemu dengan Ranawelang yg
telah memperistri Suci. Pertempuran pun tak terelakkan. Mahesa Birawa terlihat
amat marah dan ingin menghabisi Ranawelang. Awalnya pertarungan berjalan
seimbang bahkan Ranawelang berhasil melukai Mahesa Birawa, namun akhirnya
Mahesa Birawa berhasil menjatuhkan Ranawelang dan Suci pun keluar untuk meminta
meraka menghentikan perkelahian. Namun Mahesa Birawa yang sudah terlanjur
dikusai amarah tidak mau mendengar apapun. Dia mengeluarkan ajian yg diperoleh
dari hasil belajar ilmu kanuragan di Gunung Lawu Pukulan
Kelabang HIjau yg menembus dada Ranawelang. Seketika tubuh ranawelang
menghijau dan kaku akibat ajian itu, dia pun tewas setelah itu. Suci ikut
terbunuh dalam peristiwa itu. Rumah mereka dibakar tapi Wiro yg masih bayi
diselamatkan oleh Eyang Sinto Gendeng sehingga nyawanya terselamatkan. Wiro
dibawa ke tempat Eyang Sinto Gendeng dan dirawat serta digembleng ilmu kanuragan
selama kurang lebih 17tahun.
Setelah itu Wiro yang akan turun gunung dalam misinya
menumpas kejahatan diberi senjata mustika Kapak Maut
Naga Geni 212 yang berwujud kapak bermata 2 sisi dan dibawah ada kepala
naga, dibagian pegangan terdapat lubang2 yang menyerupai suling.
Untuk menerima mustika itu Wiro harus melakukan ritual. Eyang Sinto Gendeng membalikan
kapak sehingga terlihat kepala Naga yang menyemburkan sinar ke dada pemuda Wiro
Sableng sehingga dia menahan sakit dalam ritual itu. Lalu muncullah tanda 212 di dada Wiro Sableng. Dia pun
menerima Kapak Maut yang telah resmi menjadi miliknya. Wiro pun berpamitan
kepada Gurunya. Dari sinilah petualanga Wiro Sableng : Pendekar Kapak Maut Naga
Geni 212 dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar